RESPATI WIKANTIYOSO

Personal Web Pages


RESPATI WIKANTIYOSO

Kampoeng-Kampoeng Kota suatu Prespektif Morfologis: Menengok Kampoeng Heritage Kajoetangan Malang

Kota akan selalu tumbuh dan berkembang (urban life continuum),  vPertumbuhan dan perkembangan  morfologi kota  dapat berlangsung secara organis (incremental), dan/atau formal (Planning and design) Kampung Kota sebagai salah satu produk perkembangan organis. Fungsi utama Kawasan Kampung Kota adalah lingkungan hunian “kelompok”  masyarakat yang relatif “homogen” dari latarbelakang sosial-budaya, dan ekonomi. vHomogenitas latarbelakang sosio-cultural komunitas menjadi “social capital” yang potensial dalam pengembangan Kampung Kota secara “mandiri” Menuju Kampung kota yang Tangguh (urban village resilience). Kampung Kota merupakan satu kesatuan entitas masyarakat yang memiliki kesatuan “ikatan emosional” , nilai dan norma sosial-budaya, serta geo-morfologi tertentu. Kesatuan “ikatan emosional” akan menumbuhkan  “sentimen” kesadaran kolektif untuk mempertahankan, mengembangkan serta meningkatkan ketahanan sosial-kampung (social resilience).

Sebagai suatu produk komunitas, bentuk lingkunganpemukiman merupakan hasil kesepakatan sosial (social aggreement), jadi bukan merupakan produk orang perorang (Habraken). Tinjauan morfologi ditekankan pada bentuk-bentuk fisik lingkungan dapat diamati dari “ketampakan” ruang Kampung Kota secara fisik yang antara lain tercermin pada sistem jaringan jalan, blok-blok bangunan dan/atau bukan bangunan (Herbert). Pemahaman morfologi (fisikal; topografis, geografis, struktur fisik kota, tata bangunan dan/atau landskap) tidak dapat dipisahkan dengan pemahaman aspek non fisik (aktifitas komunitas kota; nilai-nilai filosofis, sosial-budaya, ekonomi dan politis). Pendekatan morfologi menjadi salah satu pendekatan untuk dapat menggali aspek fisik dan non fisik kawasan, seperti keberadaan Kawasan Kampoeng Heritage Kajoetangan Malang. Diskusi yang menarik untuk bisa ikut memikirkan keberadaan Kampoeng Heritage kajoetangan sekatang dan masa yang akan datang. Pertanyaan besarnya adalah: Apakah Kebijakan Pembangunan Kota sudah “mengakomodir” sepenuhnya kondisi wilayah Kampung Kota sesuai kondisi “heterogenitas” (baca: keberagaman) tipo-morfologi kawasannya ?


Comments are closed.